Selasa, 11 Agustus 2009

DESA ARJOWINANGUN YANG KUCINTA



SELAMAT DATANG DI DESA ARJOWINANGUN
KECAMATAN PURING KABUPATEN KEBUMEN

Sebuah desa yang terpencil, jauh dari kota
Sebuah desa dipelosok daerah
Sebuah desa yang tidak terlewati jalur Jalan Kabupaten apalagi Provinsi
Sebuah desa yang menyimpan banyak misteri dan sejarah
Sebuah desa yang menyimpan berjuta kenangan

Banyak nama Arjowinangun di Negara Indonesia, mungkin ada 7, 11 atau bahkan 27. Tapi hanya ada satu desa Arjowinangun di Kecamatan Puring

Desa ini persis di ujung timur-utara wilayah kecamatan Puring. Timur desa ini adalah Desa Tresnorejo kec. Petanahan, adapun sebelah utara berbatasan dengan Desa Tambaharjo kec. Adimulyo.

Luas perkampungan Desa Arjowinangun lebih kecil dari luas areal persawahannya. Daerah yang dihuni penduduk hanya dibagi menjadi dua dusun: Dusun Kebongkotan dan dusun Jandriyan. Kondisi seperti ini mungkin lain dari desa lainnya yang memliki banyak Dusun bahkan lebih dari 5 atau 6 dusun.

Bayangkan dari setiap dusun hanya memiliki 1 RW. tiap 1 RW hanya memiliki 4 RT. Jadi Total RT di Desa Arjowinangun ada 8 RT (4 RT di Dusun Kebongkotan, dan 4 RT di Dusun Jandriyan). Betapa kecilnya luas daerah pemukiman Desa Arjowinangun.

Jika demikian, berarti betapa luasnya wilayah sawah desa tersebut ? Jawabannya: Betul. Wilayah sawah Desa Arjowinangun begitu luas, namun jangan salah, wilayah sawah yang seluas ini hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Mungkin 60% Wilayah persawahan hanya dimiliki oleh dua orang warga kaya Desa Arjowinangun. 30% selebihnya dikuasai oleh 15 orang, dan selebihnya dikuasai oleh 59 orang. Lalu sisanya ? Sisanya mereka menjadi buruh Tani yang menggarap tanah sawah milik Desa atau orang Kaya dengan cara membeli tahunan (sewa tahunan). Ini bagi yang memiliki uang untuk membeli taunan, bagi yang tidak mereka akan menjadi buruh sesungguhnya: Buruh cangkul, buruh tanam, buruh matun, buruh nyawur pupuk, buruh panen. Tapi jangan salah, sekalipun hanya menjadi buruh, Jika rajin dan sabar, mereka-mereka ini bisa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli sawah tahunan. begitu memiliki sawah tahunan mereka bisa menyisihkan uang dari hasil panenan tsb untuk membeli sawah, jika ada yang menjual sawah.

Bagaimana pergi ke Desa Arjowinangun ?
Ada 5 Rute yang bisa di lalui untuk menuju Desa Arjowinangun:
Rute Soka
Rute Guyangan
Rute Karanganyar
Rute Gombong
Rute Jalur Selatan-Selatan (Daendels)

Rute Soka adalah: Kebumen-Soka-Dorowati-Klirong-Jagamertan-Petanahan-Purwosari-Arj.
Rute Guyangan: Guyangan-Podourip-Petanahan-Purwosari-Arjowinangun
Rute Karanganyar: Karanganyar-SMP 2 Adimulyo-Joho-Pasar Pagutan-Tambaharjo-Arj.
Rute Gombong: Gombong-Kuarasan-Purwaganda-Puring-Purwosari-Arjowinangun
Rute JSS: Mirit-Ambal-Bocor-Kreweng-Petanahan-Purwosari-Arjowinangun.


Kondisi Permahan:
Pada tahun 70-an, satu RT hanya terdiri dari 12 KK, saat ini(2009) telah mencapai 33 s.d 40 KK. Ini menunjukkan tingkat laju kepadatan penduduk yang tinggi. Areal pemukiman yang tidak pernah bertambah, membuat perkampungan di dua dusun ini menjadi penuh sesak. bahkan mobil pun untuk memasuki gang di depan rumah kesulitan. beberapa tamu yang bermobil harus memarkirkan kendaraanya di depan musolla atau di pinggir jalan desa.

Kondisi Jalan:
Jalan Desa baru diaspal pada tahun sekitar 2000-an. sebelumnya jalan menuuju desa ini sangat buruk, apalagi musim penghujan. sekalipun berkali-kali diberi pengerasa dengan memberi batu krokos, namun tetap saja jalan menuju Desa arjowinangun baik dari arah utara maupun selatan tetap Jeblog!. Beruntunglah pasca Reformasi, jalan menuju Desa ini di Aspal, sekalipun saat ini (2009) sudah berlobang-lobang kembali.

Listrik:
Listrik masuk desa Arjowinangun terbilang terlambat, setelah semua desa lain di kec. Puring mendapatkan penerangan Listrik, desa ini baru menerima. sebelumnya untuk mendapatkan energi listrik, masyarakat di desa Arjowinangun melakukan nyabang listrik dari desa Tresnareja secara liar. mereka hanya urun kabel listrik dan membeayar tagihan listrik kepada pemilik gastang di desa itu. Akibat dari adanya nyabang listrik secdara liar ini, beberapa orang telah menjadi korban kesetrum listrik hingga meninggal.
--------------
------------
-------
---
AOI (Angkatan Oemat Islam)
Saat ini hampir seluruh warga Arjowinangun telah melupakan sejarah bahwa Desa kita tercinta ini pernah menjadi Basis AOI.
Bagi penjajah Belanda, keberadaan AOI adalah sebagai teroris, pengacau. Namun bagi bangsa Indonesia, AOI adalah pahlawan yang berusaha sekuat tenaga mengusir pendudukan Belanda dari Indonesia khususnya di Kabupaten Kebumen.
Sedangkan di mata Islam, para pengikut Laskar AOI (yang konsisten dan istiqomah sampai meninggal) mereka ini adalah para Mujahid yang berjihad membela Islam mengusir Belanda dari tanah-tanah warga kaum Muslimin di Kebumen.
AOI didirikan oleh Kyai Somalangu sebagai bentuk perlawanan fisik kepada pendudukan Belanda di Indonesia pada saat Clash pertama dan ke-dua. Hampir 90% wilayah Kebumen masuk menjadi basis AOI. Para santri-sastri pondok Somalangu pulang ke kampung halaman masing-masing untuk mengumumkan adanya Jihad dan merekrut banyak pemuda di masing-masing desa mereka untuk dijadikan laskar hisbullah.
Salah satu Desa yang banyak menjadi pengikut Laskar AOI adalah Desa Arjowinangun.
Setelah Belanda mengetahui bahwa salah satu sarang AOI berada di Arjowinangun, melalui para mata-matanya (yang berasal dari warga Indonesia sendiri) Pasukan Belanda digerakkan dari Gombong menuju Desa Arjowinangun. Selain ingin menyapu bersih Desa Arjowinangun, Pasukan Belanda juga ingin menghabisi para laskar di daerah kecamatan Puring dan kecamatan Petanahan.
Beberapa pertempuran sengit telah terjadi di Cangkringan, Puring, Sidobunder dan Kritig. Beberapa warga dan pemuda yang berhasil ditangkap oleh Belanda, mereka dibunuh dengan cara ditusuk dengan bayonet, ditebas dengan pedang maupun ditembak di desa Kritig, kecamatan Petanahan.
Demikianlah, dengan persanjataan yang sangat sederhana para pemuda dan anggota-anggota yang masuk dalam laskar AOI melawan pendudukan Belanda di daerah Kebumen. Tak sedikit dari mereka yang gugur sebagai pahlawan sekaligus sebagai mujahid fi sabiilillah. Allahumma Amiin.
---
Setelah pendudukan Belanda selesai, Pemimpin Besar AOI Kyai Somalangu atau yang sering disebut Romo Pusat konon mendapat tawaran dari pimpinan DI/TII R.M Kartosuwiryo agar AOI ikut serta dalam perjuangan menegakkan Negara Islam.
Pendapat ini masih harus diselidiki lebih lanjut, apakah benar K.H Soumalangu mendapat tawaran, atau sesungguhnya tidak ada hubungan sama sekali.
Saat mendapat tawaran tersebut, Kyai Somalangu melakukan shalat istihara untuk menentukan akan memilih tawaran R.M Kartosuwiryo atau tidak. Kondisi negara pada waktu itu memang sangat genting. Pemerintah kalah strategi di konferensi dan perundingan dengan Belanda. berkali-kali wakil perundingan Indonesia menerima begitu saja permintaan Belanda, misalnya wilayah Indonesia yangs emakin sempit, kemudian bersedia untuk mendirikan negara Serikat dll. Jika semua permintaan Belanda di setiap perundingan selalu dituruti oleh delegasi Indonesia, maka jelas, Indonesia akan segera terpuruk .
Lebih lanjut Jenderal Soedirman ternyata mengetahui kondisi ini. Ia melakukan tindakan sendiri bersama para perajurit dan kawan-kawannya yang berasal dari Hisbullah (tentara-tentara dari Umat Islam). Namun tindakan jenderal Soedirman tetap dikomunikasikan dengan Soekarno dan Hatta. Tindakan Jenderal Soedirman adalah: Tetap melakukan gerilya, dan pemberontakan-pemberontakan kepada Belanda sekalipun di wilayah yang diklaim sebagai wilayah Belanda. Kedua tetap menolak untuk melakukan penarikan pasukan-pasukan dari wilayah yang telah ditentukan Belanda. ketiga setiap pasukan-pasukan dan alskar-laskar yang berada di masng-masing Desa dan daerah tetap dijaga dan jangan dibubarkan, sekalipun laskar-laskar ini berada di wilayah yang diklaim sebagai Wilayah Belanda.
---
Berikut ini sebuah catatan sejarah dalam versi lain mengenai sejarah AOI di Kebumen yang penulis ambil dari http://jhonoe.blogspot.com/2009/01/sejarah-aoi-angkatan-oemat-islam-di.html
SEJARAH AOI (ANGKATAN OEMAT ISLAM) DI KEBUMEN benarnya terjadi dengan gerakan Angkatan Oemat Islam (AOI) sejauh ini belum terekspos ke publik. Di bangku sekolah menengah, dalam IPS Sejarah maupun PSPB, kita 'dicekoki' AOI tak lebih dari sekedar pemberontakan, 'cabang' DI/TII untuk kawasan Jawa Tengah bagian selatan. Pemahaman sejenis juga bisa dilihat pada para peneliti yang pernah menggeluti persoalan AOI, misalnya alm. Kuntowijoyo (1970) ataupun tesis Danar Widayanta di UI (judulnya Angkatan Oemat Islam 1945 - 1950 : Studi Tentang Gerakan Sosial di Kebumen).Pusat Penerangan TNI -sebagai lembaga resmi yang menghabisi AOI- bahkan memberikan simplifikasi menggelikan. Dalam Diorama Museum Waspada Purbawisesa disebutkan, AOI mulai melakukan rapat-rapat rahasia pada Mei 1950 sebagai persiapan perlawanan terhadap pemerintah RIS (Republik Indonesia Serikat) yang dianggap sudah dipengaruhi tokoh-tokoh komunis. Dari rapat itulah kemudian Batalyon Lemah Lanang, Batalyon 423 dan Batalyon 426 (ketiga batalyon ini awal mulanya berasal dari Laskar Hizbullah Sabilillah) mulai mengganggu keamanan di Kedu Selatan. Tentu saja ini rancu dan menggelikan, mengingat sebagian besar tokoh komunis sudah dihabisi pasca kudeta setengah hati di Madiun, September 1948. Dari cerita perjalanan hidup Letkol. Untung a.k.a Kusman (yang pernah saya paparkan di sini), ataupun kisah Dipa Nusantara Aidit, kita tahu tokoh2 komunis baru mulai bermunculan pasca 1950.KH. Abdurahman Wahid menyebut pemberontakan AOI muncul akibat kebijakan pimpinan militer (APRIS) pasca pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949 yang menghendaki peleburan laskar-laskar perlawanan ke dalam APRIS setelah usainya Perang Kemerdekaan. Namun, peleburan itu disertai embel2, hanya orang2 yang mendapat pendidikan "Sekolah Umum Belanda" saja yang bisa menduduki jabatan komandan batalyon. Syekh Mahfudz Abdurrahman dikatakan berminat terhadap kedudukan komandan batalyon ini, yang akan dibentuk dan bermarkas di Purworejo. Namun Syekh Makhfudz terhadang oleh ketiadaan ijazah yang dipunyainya dan karena itu beliau memilih mengobarkan pemberontakan, terlebih ketika jabatan yang diincarnya jatuh ke anak muda ingusan bernama Ahmad Yani. Dalam uraian berikut, akan kita lihat bahwa alasan semacam ini juga simplistik.Merujuk penuturan KH Afifuddin Chanif al-Hasani dan KH Musyaffa Ali -masing-masing cucu dan menantu Syekh Mahfudz- akar masalah AOI sejatinya terletak pada kebijakan Rera (restrukturisasi dan rasionalisasi) yang dikumandangkan kabinet Hatta pada 1948 atas usulan Wakil Panglima Besar AH Nasution. Dalam program Rera ini, laskar-laskar perlawanan akan digabungkan menjadi satu ke dalam TNI dan diciutkan personalianya hingga tinggal setengah dari semula. Prioritas ditujukan pada mereka yang mendapatkan pendidikan militer zaman Hindia Belanda maupun Jepang. Sebagai pimpinan badan kelasykaran terbesar di Jawa Tengah, dengan massa +/- 10.000 orang dan punya potensi massa tambahan 30.000 orang, Syekh Mahfudz risau dengan kebijakan diskriminatif ini mengingat mayoritas massa AOI memiliki tingkat pendidikan formal rendah dan berbasis pesantren sehingga berpotensi tereliminir karena tak punya ijazah. Meski sebagian besar massa AOI semula merupakan petani, tak pelak bahwa perjalanan Perang Kemerdekaan telah menarik sebagian diantaranya untuk bermobilitas vertikal menjalani karir militer. Keresahan bertambah mengingat pada 1948 itu Indonesia justru masih berhadapan dengan ancaman kekuatan NICA, yang bagi Syekh Mahfudz sangat nyata, mengingat sebagai ketua PPRK (Panitia Pertahanan Rakyat Kebumen) yang berkedudukan langsung di bawah Bupati Kebumen, beliau langsung berhadapan dengan pasukan NICA di garis demarkasi Sungai Kemit, Gombong timur. Sehingga menurut beliau tidaklah bijak menggagas Rera justru ketika ancaman nyata menghadang di depan mata.Di diagonal yang berseberangan, keresahan yang sama juga dihadapi faksi sosialis-komunis yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) pimpinan Amir Syarifuddin di Madiun. Namun FDR memilih menyelesaikannya dengan mengobarkan kudeta setengah hati Madiun Affair yang gagal pada September 1948, peristiwa yang menguras energi lasykar-lasykar rakyat dan TNI terlalu banyak untuk menumpasnya. Penumpasan FDR ini membuat Syekh Makhfudz dan PPRK semakin yakin NICA tinggal menunggu waktu saja untuk menjebol garis demarkasi Sungai Kemit dan menyerbu jauh ke Yogyakarta sebagai ibukota RI.Keresahan Syekh Mahfudz terbukti ketika NICA menggelar kampanye militer Doorstot naar Djokdja pada 18 Desember 1948, yang berhasil menawan Soekarno-Hatta, menghancurkan kabinet Hatta dan membuat TNI serta lasykar-lasykar tercerai berai. Ini menginisiasi masa Perang Kemerdekaan II yang sekaligus membenamkan ide Rera ala Nasution. Dalam periode inilah peranan AOI kian menanjak dalam percaturan politik dan militer di Jawa Tengah.Perang usai seiring penandatanganan pengakuan kedaulatan di Istana Rijswik, 27 Desember 1949, sebagai realisasi Konferensi Meja Bundar. Ini sekaligus menandai berdirinya RIS dengan APRIS sebagai tentara nasionalnya. Pembentukan APRIS membawa konsekuensi tersendiri bagi AOI seiring kembali mencuatnya isu Rera. Dalam pandangan Danang Widayanta, tawaran APRIS agar AOI bergabung kedalamnya melalui Rera yang diskriminatif berpotensi menghasilkan sedikitnya empat ancaman : ancaman eksistensi organisasi, ancaman kehilangan posisi sosial ekonomis, ancaman kehilangan posisi politis dan ancaman kehilangan posisi budaya. Ini menghasilkan kondisi AOI tidak lagi otonom, tidak lagi merasa aman dalam posisinya dan frustrasi dengan masa depannya. Ini yang membuat Syekh Mahfudz menolak bergabung.Namun dari penuturan KH Afifuddin dan KH Musyaffa, atas bujukan KH Nursodik dan KH Sururudin (keduanya pimpinan AOI) sebenarnya Syekh Mahfudz telah bersedia berunding dengan APRIS untuk membicarakan kemana AOI hendak diarahkan, mengingat jasanya yang demikian besar. Perundingan mengerucut pada kompromi dengan pembentukan Batalyon Lemah Lanang, yang khusus menampung massa AOI yang diseleksi sendiri oleh Syekh Mahfudz. Syekh Mahfudz sendiri, dengan usianya yang telah mencapai 49 tahun, tidak berminat mengejar posisi komandan batalyon, mengingat dengan kedudukannya sebagai "Rama Pusat", dengan massa AOI dan thariqah Syadzaliyah yang diampunya, beliau sudah menempati posisi natural leader yang kharismanya melampaui batas-batas kabupaten, mengingat pesona AOI juga terasakan hingga Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Cilacap dan Purworejo, melebihi formal leader Bupati Kebumen yang waktu itu dijabat R.M. Istikno Sosrobusono. Meski demikian, Kuntowijoyo menyebut Syekh Mahfudz memiliki pandangan apolitis, karena itu tak heran beliau membenci partai politik, termasuk Masyumi.Tapi persoalan tak usai meski Batalyon Lemah Lanang sudah dibentuk. Sebagai batalyon yang beranggotakan para santri, yang dalam perang kemerdekaan mengumandangkan perang suci (jihad) kepada NICA yang dilabeli kafir, Batalyon Lemah Lanang mengalami gegar budaya ketika harus berbaur dengan unit2 lain dalam APRIS yang notabene sebagian besar berisi perwira hasil didikan Militaire Academie Hindia Belanda. Lebih lagi perwira2 itu umumnya berasal dari kelas bangsawan Jawa, yang sejak kecil dijejali pandangan "Islam adalah problem" warisan Sultan2 dan Sunan2 Mataram. Batalyon Lemah Lanang dianggap kaku dalam berprinsip, radikal dan memiliki sudut pandang selalu hitam putih, sementara Batalyon Lemah Lanang sendiri menganggap unit2 di tubuh APRIS banyak mengadopsi kebiasaan kaum kafir Belanda dan banyak faksi didalamnya yang atheis. Beberapa unit yang dianggap atheis adalah Batalyon Sudarsono dan Ahmad Yani di Purworejo, disamping Brigade X / Garuda Mataram yang dipimpin Soeharto di Yogyakarta.Gegar budaya ini makin melebar dan meluas hingga keluar dari skup Batalyon Lemah Lanang. Sampai akhirnya terjadi ejek2an berujung tawuran antara pemuda2 AOI dengan anggota Batalyon Sudarsono, yang menyebabkan 1 pemuda AOI terbunuh. Akibatnya AOI bereaksi dan inilah yang ditanggapi Kol. M. Sarbini di Magelang sebagai indikasi AOI hendak memberontak, sehingga diperintahkanlah Batalyon Sudarsono dan Ahmad Yani menggempur Somalangu.Tidak tepat jika AOI disebut memberontak. Dalam penuturan KH Afifuddin, KH Musyaffa dan Ibu Zubaidah (keponakan Syekh Mahfudz, kini sudah sangat sepuh), hingga menjelang 1 Agustus 1950 tersebut Syekh Mahfudz sama sekali tidak menyiapkan konsep2 untuk mendirikan negara tersendiri sebagaimana dilakukan SM Kartosuwiryo di Jawa Barat. Meski pernah membicarakan wacana wilayah "Kapoetihan" -semacam Kauman yang diperluas, tempat kediaman orang-orang saleh yang digambarkan menempati daratan sebelah timur Sungai Lukulo hingga perbatasan Purworejo- namun tak ada pembicaraan lebih lanjut, apalagi yang bersifat operasional semacam menyiapkan proklamasi, konstitusi dan angkatan perang tersendiri. Syekh Mahfudz sendiri juga tidak menyiapkan suatu perangkat kaderisasi ataupun suatu exile government andaikata Somalangu sewaktu-waktu diserbu. Beberapa pertemuan memang berlangsung dengan pimpinan Batalyon 423 dan 426 (keduanya sama-sama berasal dari lasykar Hizbullah Sabilillah), namun itu lebih ditujukan pada bagaimana mengantisipasi persoalan di antara sesama lasykar Hizbullah Sabilillah akibat kebijakan Rera yang diskriminatif. Tidak ada pertemuan dengan utusan DI/TII, baik dari Kartosuwiryo sendiri maupun dari wakilnya di Jawa Tengah : Abdul Fattah.Maka bisa dibayangkan bagaimana kagetnya Syekh Mahfudz ketika Somalangu dikepung rapat pada pagi hari 1 Agustus 1950 dan tanpa ba-bi-bu langsung digempur ala manuver blitzkrieg, tanpa sempat menyiapkan diri. Akibatnya tak ada lagi bangunan di Somalangu, Candiwulan, Candimulyo dan sekitarnya yang masih tegak berdiri. Bahkan masjid kuno berusia 400-an tahun peninggalan Syekh Abdul Kahfi Awwal pun ikut runtuh. Tak ada tempat yang tak terbakar, hingga segala macam jejak tertulis mulai dari arsip2 AOI hingga kitab2 dan kitab suci al-Qur'an pun hangus. Mayat berserakan dimana-mana, mulai dari orang tua, pemuda, ibu-ibu, anak-anak dan bahkan bayi. 1.000-an orang tewas hanya pada hari itu.Tak ada kata yang cocok untuk mendeskipsikan keadaan demikian selain pembantaian teramat keji, yang bisa disetarakan dengan Pembantaian Srebrenica 1995 di Bosnia-Herzegovina.Meski diserang mendadak, namun Bharatayudha berkobar hingga 3 bulan lamanya. Jika kemudian sisa-sisa Batalyon Lemah Lanang memilih untuk bergabung dengan sisa-sisa DI/TII Abdul Fattah, sisa-sisa Batalyon 426 dan 423 MMC (Merapi Merbabu Complex) di kaki Gunung Slamet, pilihan ini diambil pasca tertembak dan wafatnya Syekh Mahfudz di Gunung Selok, Cilacap. Dengan kondisi organisasi AOI berantakan, pemimpin tertingginya wafat dan tak ada yang kader bisa menggantikan kharismanya, dengan Somalangu dan Kebumen timur sudah diobrak-abrik amunisi APRIS, tanpa ada tawaran rekonsiliasi dan amnesti agar bisa kembali ke masyarakat sebagai orang baik-baik, serta jikalau menyerah pun akan masuk Nusakambangan tanpa diadili (seperti dialami ratusan massa AOI yang memilih menyerah), maka dalam pandangan saya tak ada pilihan lain yang logis rasional kecuali menyelamatkan diri, bergabung dengan saudara senasib sepenanggungan dan terus bertempur, meski tak jelas lagi bertempur untuk apa.Pembantaian Somalangu menandai satu babak baru di kalangan pemerintah RIS / NKRI tentang bagaimana menyikapi dan menyelesaikan perbedaan pendapat dengan cara hantam kromo (main pukul rata). Pasca AOI, di Jawa Tengah, giliran MMC digempur. Di Jawa Timur, satu Batalyon pimpinan KH Yusuf Hasyim (saat itu berpangkat Lettu) pun turut diberangus dengan tuduhan DI/TII dan komandannya ditahan berbulan-bulan tanpa diajukan ke pengadilan. Di Kalimantan Selatan, Ibnu Hadjar dengan KRJT-nya (Kesatoean Rakjat Jang Tertindas) dilucuti dan dituduh DI/TII pula, sementara di Sulawesi Selatan, usulan Abdul Qahhar Muzakar agar lasykar-lasykar asal Sulawesi Selatan yang telah dihimpun menjadi satu dalam KGSS (Keluarga Gerilja Soelawesi Selatan) direkrut ke dalam APRIS dengan nama Brigade Hasanuddin ditolak dan digempur seperti AOI. Ini menyisakan trauma dan dendam berkepanjangan. Maka tidak heran jika Dr. Tgk Muhammad Hasan di Tiro, ketika mendirikan Gerakan Atjeh Merdeka pada 1976, merujuk terjadinya "pembantaian oleh bangsa sendiri" sebagai latar belakang.
---

Angkatan Oemat Islam (AOI) itu suatu gerakan Islam modern yang -meski cenderung revivalis- namun punya potensi besar untuk berkembang dan bersejajar dengan gerakan modern seperti NU maupun Muhammadiyah. Hanya saja, gerakan AOI terlanjur abortif, dalam istilah (alm) Kuntowijoyo, gerakan yang mati muda sebelum gejala-gejala dan tanda-tandanya sempat terucapkan. Namun yang jelas, AOI tidak bisa dilepaskan dari Pesantren al-Kahfi Somolangu. Kebetulan saya kenal baik dengan sebagian keluarga inti Somolangu, ditambah dengan paparan pak Kuntowijoyo (Kuntowijoyo, 1991, Paradigma Islam, Bandung : Mizan) yang aslinya dipaparkan dalam Seminar Sedjarah II tahun 1970, maka kita bisa memperoleh gambaran bagaimana AOI dan Somolangu ini sebenarnya.Pesantren Somolangu itu pesantren tertua di Kebumen,bahkan di tlatah Jawa Tengah bagian selatan. Selain Somolangu, pesantren tua lain di sini adalah Pesantren Lirap Petanahan dan Pesantren Salafiyyah Wonoyoso. Namun K.H. Ibrohim Nuruddin baru mendirikan Lirap di awal abad ke-20 dan K.H. Nasuha meletakkan pondasi Salafiyyah pasca kepulangannya dari Makkah bersama K.H. Hasyim Asy'ari (pendiri NU) di awal abad ke-20 juga. Sementara Somolangu didirikan jauh hari sebelumnya, yakni pada ± 1000 H atau 1590 M oleh Syekh Abdul Kahfi Awwal, ulama Hadramaut yang merantau ke Jawa menyokong eksistensi Kerajaan Islam di Jawa dan selanjutnya bermukim di lembah Sungai Kedungbener. Jejak2 arkeologis menunjukkan lembah ini telah dihuni manusia sejak abad ke-8 M, ditandai keberadaan sepasang yoni dan sejumlah lingga dari batu andesit berlanggam Jawa Tengahan (ciri khas abad ke-8 M) yang terpreservasi dengan baik. Lingga dan Yoni, sebagai simbol kesuburan, diketahui hanya didirikan oleh komunitas Hindu (Syiwa) yang besar dan telah menjadikan tempat tersebut sebagai hunian tetapnya. Maka ada asumsi, komunitas Hindun yang terorganisir itulah yang ditemukan Syekh Abdul Kahfi Awwal dan diislamkanSyekh Kahfi Awwal terkenal egaliter, bahkan konon sampai sekarang meski beliau sudah wafat ratusan tahun silam. Ada cerita tiap kali makamnya yang terletak di Bukit Lemah Lanang (± 2 km sebelah timur Mapolres Kebumen) hendak diberi cungkup atau tetenger seperti umumnya makam2 lainnya, upaya itu tidak pernah berhasil. Cungkup/tetenger selalu ditemukan sudah 'terbang' ke persawahan di sebelah baratnya. Bukit Lemah Lanang sendiri -menurut dugaan saya, meski sangat lemah- kemungkinan dulu bekas candi.Menurut cerita, nama Somolangu diberikan oleh Raden Patah (Sultan Alam Akbar al-Fatah) dari kerajaan Demak Bintoro, yang mengatakan "tsumma dha'u" (artinya disinilah tempatmu) ketika menghadiahkan tanah di lembah Sungai Kedungbener itu kepada Syekh Kahfi,namun nang ilate wong Jawa (apamaning wong Kebumen) berubah jadi "Samalangu", dan akhirnya jadi "Somolangu" malah kadang jadi "Semlangu". Tapi dalam konteks sejarah, cerita ini rancu, soale Sultan Demak ketiga saja, yakni Sultan Trenggono, telah wafat pada 1546 M saat penyerbuan Pasuruan. Setting waktu yang lebih rasional mengaitkan berdirinya pesantren al-Kahfi Somolangu dengan akhir dinasti Pajang (Sultan Hadiwijaya) ataupun Mataram Islam awal (mungkin era Panembahan Senopati ataupun Panembahan Ratu/Panembahan Seda ing Krapyak).Maka usia Somolangu jauh melampaui Kebumen sendiri. Bahkan dalam Babad Kebumen disebutkan, Joko Sangkrip, yang kelak menjadi KRT RAA Aroengbinang I yang keturunannya menjadi bupati2 Panjer/Kebumen sejak 1833 hingga masa Perang Dunia II, ikut nyantri di Somolangu di bawah asuhan Syekh Abdul Kahfi Awwal ini (meski diceritakan Joko Sangkrip ini santri mbeling sontoloyo gemaguse babar blas tukang ngintip wong wadon adus).Ketika Perang Dunia I berkecamuk, Somolangu mengambil inisiatif berpartisipasi dengan membantu Kesultanan Utsmaniyah Turki (Turki Ottoman). Namun panggung sejarah Somolangu dalam konteks Indonesia Modern, lebih terpapart ketika terjadi peristiwa Angkatan Oemat Islam (AOI) yang menggetarkan pada 1950. AOI ini badan kelasykaran terbesar di Jawa Tengah, didirikan tahun 1945, beranggotakan ± 10.000 orang dari Kebumen timur, Purbalingga, Wonosobo dan Purworejo yang menjadi anggota jaringan tarekat Syadzaliyah yang berpusat di pesantren al-Kahfi Somolangu. Koordinasi dilakukan oleh Syekh Mahfudz Abdurrahman, pengasuh ponpes saat itu, yang digelari "Rama Pusat", dengan pelaksana teknisnya K. Sururudin. K. Sururudin ini bapake K.H. Nashiruddin al-Manshur (bupati Kebumen saat ini). Badan ini lalu bergabung dalam pasukan Hizbullah-Sabililla h yang dibentuk ulama-ulama Indonesia dalam upaya mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945 dan sempat bertempur habis2an melawan tentara Inggris dan NICA dalam Palagan Ambarawa dan Peristiwa 10 November 1945 Surabaya.Ketangguhannya teruji ketika AOI (sebagai badan terbesar) berhasil mencegah Agresi Militer Belanda I 21 Juli 1947 bergerak ke Yogya sehingga memaksa Panglima NICA, Jendral Spoor dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru, Dr. H.J van Mook, membikin garis demarkasi di Sungai Kemit - Gombong, guna menghindari jatuhnya korban tentara NICA lebih besar. Memang garis van Mook ini bobol dalam kampanye militer Doorstot naar Djokdja alias Agresi Militer II 18 Desember 1948, namun pasukan khusus NICA menghadapi perlawanan sangat gigih pejuang Hizbullah-Sabililla h bersama TNI, yang jejak2nya muncul sebagai Palagan Sidobunder, Monumen Kemit dan juga Monumen Jembatan KA Luk Ulo (di barat RSU Kebumen). Meski berhasil menguasai Kebumen dengan bermarkas di Gedung Gembira (dekat Stasiun KA Kebumen), pasukan elit Gajah Merah dan Anjing Hitam NICA tidak pernah bisa menganeksasi Somolangu, meski pondok itu hanya berjarak 2 km dari jalan utama Kebumen - Purworejo. Demikian juga tentara kolonial Hindia Belanda, seabad sebelumnya, yang tak pernah bisa mengontrol Somolangu meski telah mendirikan Benteng Wonosari (sebagai bagian dari sistem benteng stelsel ala de-Kock) di era Perang Diponegoro, yang letaknya bahkan hanya berseberangan sungai terhadap pesantren al-Kahfi.Meski bertempur bersama, pada periode 1947 - 1948 ini bibit2 pertengkaran AOI dan TNI mulai muncul. TNI - yang didominasi priyayi2 Jawa abangan - menganggap AOI lebih sering menimbulkan masalah, pandangan yang mungkin diturunkan dari Amangkurat I (yang pernah membantai ± 6.000 ulama Kajoran di alun-alun Plered pasca konflik dengan Pangeran Pekik). Yel2 "Allahu Akbar" yang diteriakkan AOI kala melakukan serangan dianggap membuat tentara NICA lebih mudah mengenali sasarannya. Sementara AOI - yang puritan dan mencoba melakukan purifikasi meski tidak seradikal Wahhabi - menganggap perilaku anggota TNI itu 'tidak Islami.' Ada isu pula, pasca Perang Kemerdekaan, AOI dianggap hendak mendirikan suatu "Keputihan", yakni wilayah orang2 saleh yang lokasinya mulai dari Sungai Lukulo hingga batas Kebumen - Purworejo. Namun, walo bermasalah dengan TNI, AOI -khususnya Syekh Mahfudz- menjadi pendukung bahkan berhubungan sangat erat dengan Presiden Soekarno. Soekarno sendiri pula yang menjanjikan AOI "tidak akan diapa-apakan. "Pertengkaran makin menjurus parah pasca Konferensi Meja Bundar, dimana TNI dan badan2 kelasykaran harus dilebur ke dalam APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat). TNI menghendaki AOI diseleksi sebelum memasuki APRIS, sementara Syekh Mahfudz menghendaki AOI langsung masuk. Sebagai kompromi dibentuklah Batalyon Lemah Lanang untuk mengakomodasi pemuda2 AOI yang berminat masuk APRIS. Namun Batalyon ini terasing, terisolir dan tidak disukai di kalangan APRIS yang mayoritas berasal dari TNI.Namun pertengkaran dengan TNI berubah menjadi permusuhan terbuka di akhir Juli 1950 kala beberapa personel TNI menggebuki anggota Batalyon Lemah Lanang sampai tewas. Aksi itu dibalas pada 31 Juli saat pemuda2 AOI gantian menggebuk personel TNI yang sedang lewat dengan jipnya, juga sampai tewas. Peristiwa ini dianggap sebagai perlawanan, sehingga sore itu juga Syekh Mahfudz diminta datang menghadap Kol. Sarbini di Markas APRIS Magelang. Syekh berjanji esok paginya akan datang menghadap, mengingat hari itu sudah sore dan transportasi sulit. Namun APRIS menganggapnya sebagai pembangkangan sehingga pagi 1 Agustus 1950 itu juga APRIS sudah mengepung Somolangu dan Syekh Mahfudz diultimatum untuk menyerah.Maka berlangsunglah Bharatayudha. Somalangu dan desa2 disekitarnya menjadi merah berkuah darah, hancur lebur digempur bangsa sendiri. APRIS mengerahkan pasukan besar bersandi "Kuda Putih" (kelak menjadi Yon 404 /Para Banteng Raiders) dibawah pimpinan Kol. Achmad Yani dengan tugas melakukan stelling, menghancurkan segala jenis bangunan yang berdiri di Somolangu dan sekitarnya tanpa peduli apapun isinya. 1.000-an orang tewas hanya di hari itu, dengan total korban keseluruhan 2.000-an jiwa selama perang saudara berkobar 3 bulan. M. Sarbini dan Achmad Yani mengumumkan AOI terkait dengan DI/TII-nya Kartosuwiryo di Jawa Barat, hal yang tak masuk di akal mengingat Syekh Mahfudz tidak kenal dan tidak pernah berhubungan dengan Kartosuwiryo, baik secara langsung ataupun lewat wakilnya di Jawa Tengah (Abdul Fattah, yang mengobarkan perlawanan di Brebes - Tegal - Pemalang). M. Sarbini juga memindahkan ibukota kabupaten ke Karanganyar dan mengorganisir ulama2 Kebumen barat, sehingga muncul nama K.H. Umar Nasir Candi dan K.H. Makmur Tejasari yang "memberikan" legitimasi menggempur Somalangu.Batalyon Lemah Lanang dan Pasukan Kuda Putih terlibat baku tembak jarak dekat nan dahsyat di sekitar lokasi Mapolres Kebumen sekarang. Konon demikian brutal aksi pasukan Kuda Putih, sehingga Syekh Makhfudz mengucapkan 'kata kutuk' : kelak Achmad Yani bakalan mati menyedihkan.Akibat kebrutalan ini dan demi menghindari korban lebih besar, Syekh Makhfudz memutuskan menyingkir dari Kebumen dan berhijrah ke barat, tempat dimana Bandayudha leluhurnya merantau. Namun pada kontak senjata di Gunung Selok (Srandil) Cilacap, Syekh tertembak, meninggal dan dimakamkan di tempat itu. Menjadi ironi bahwa di kemudian hari Gunung Selok ini justru menjadi tempat pertapaan favorit politisi dan petinggi2 militer, termasuk sang big-boss - Soeharto, yang sampe2 membangun helipad khusus.
AOI langsung padam setelah wafatnya Sykh Mahfudz. namun AOI masih menjadi isu sensitif hingga dekade 1970-an. dari cerita (alm) K.H. Durmuji Ibrohim -pengasuh ponpes Lirap hingga 1989- di awal dekade 1970-an itu beliau bersama-sama ulama-ulama kritis Kebumen lainnya sempat diamankan di Makodim selama beberapa bulan, karena isu AOI kembali menghangat dan dikelompokkan ke dalam kutub "ekstrem kanan". Ada juga upaya pengingkaran, yang berlangsung secara sistematis hingga masa kepemimpinan Amin Sudibyo di Kebumen. sebagai contoh, hari lahir Kebumen ditetapkan 1 Januari karena masalah ini, meski banyak bukti menunjukkan sebaiknya menggunakan tanggal berdirinya kadipaten Sruni atau Somolangu sebagai acuan waktu berdirinya Kebumen, karena merujuk runtutan (time-seriesnya) memang seharusnya demikian.Namun kini stigma ekstrem kanan itu mulai pupus, seiring naiknya K.H. Nashiruddin al-Manshur ke tampuk Bupati Kebumen. Walopun, tak banyak yang mau berbicara atau menyinggung- nyinggung AOI. Satu2nya ilmuwan yang berani meneliti AOI secara komprehensif hanyalah (alm). Kuntowijoyo. pak Kunto--nama panggilan akrabnya--sewaktu masih hidup adalah dosen sejarah pada Fak. Sastra Budaya Universitas Gajah Mada. Beliau memang sangat perhatian kepada sejarah-sejarah yang jarang dilirik oleh sejarawan Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Islam di Indonesia. Karena kebanyakan sejarawan Indonesia beragama Katholik dan Non-Muslim.
---
Naiknya K.H Nasiruddin Al_mansyur ke tampuk kekuasaan Bupati di Kebumen, diyakini oleh sebagian besar kaum muslimin Kebumen sebagai kemenangan penerus AOI. Sekalipun banyak dari berbagai kalangan khususnya keluarga Laskar AOI yang ekstrem mengatakan: Bahwa K.H Nasiruudin sama sekali tidak mewakili AOI. Semua anggota Laskar AOI telah dibaiat untuk tidak menerima apapun dari pemerintah yang kafir, pemerintah yang telah membunuh ROMO PUSAT. termasuk menjadi pegawai negeri, hukumnya adalah haram atau kafir. Menjadi pegawai negeri berarti memihak musuh-musuh Islam, musuh-musuh AOI yang telah membantai dengan keji Kyai Soumalangu.
---
nah mau tahu dari mana asal-usul nenk moyang K.H Nasiruddin Al-Mansyur ? Beliau adalah titisan darah Desa Arjowinangun Kec. Puring Kab. Kebumen.
K.H Nasiruddin Al-Mansyur memang lahir di Purwosari Kec. Puring, namun Ayahnya dan kakeknya dan nenek moyang mereka berasal dari Desa Arjowinangun. Lalu apa hubungannya ?
---
Ya, jelek-jelek begini, Desa Arjowinangun adalah gudang veteran AOI.
SELAMAT JALAN PARA MUJAHID-MUJAHID AOI
ALLAH SWT AKAN MEMBERIKAN SURGA UNTUK KALIAN SEMUA
^^^
PERISTIWA AHAD WAGE "DESA ARJOWINANGUN"
INI ADALAH SALAH SATU PERISTIWA YANG TAK DAPAT DILUPAKAN BEGITU SAJA OLEH PARA WARGA DESA ARJOWINANGUN. SAAT INI CLASH KE-2 TENTARA ANJING NEKAT (BEGITU PARA WARGA MENAMAKAN PENJAJAH NICA) ... memasuki desa Arjowinangun dari arah timur. Mereka tiba di Paterban (dusun timur Desa Arjowinangun). Di Dusun Paterban, tentara Anjing Nekat (NICA) yang berkewarganegaraan asing sempat di tahan oleh Lurah Paterban, sehingga hanya serdadu NICA berkebangsaan Jawa saja yang memasuki Arjowinangun.
Entah apa jadinya jika Lurah Paterban tidak sempat menahan para serdadiu Asli NICA, apsti akan banyak penduduk Arjowinangun yang mati.
Sekalipun hanya serdadu Jawa yang masuk ke Desa Arjowinangun, mereka sempat membawa empat orang tokoh-tokoh AOI. Mereka adalah K.H Khudlori (Ayahanda dari K.H Imam Muhdi/ Turmusi), Busro (Putra K.H Abdullah Muchsin. Busro juga Adik dari K.H Sururudin. K.H Sururuddin adalah Ayahanda K.H Nasiruddin Al-Mansyur, Bupati Kebumen 2008-2010), dan dua orang putra dari K.H Ahmad Satari.
Saat ituSungai Salah memang sedang banjir, bahkan banjir ini sempat pula menggenangi daerah-daerah di timur Desa Arjowinangun: Pejaten, Paterban, Hingga Salak.
Setelah berhasil membawa anggota AOI, keempat orang tersebut diikat dan dibawa ke ke Salak. salak adalah sebuah Dusun yang terlewati jalur Besar jurusan Guyangan. Sambil menuggu serdadu-serdadu NICA lainnya yang masih berpencar di pelosok-pelosok desa mengambil para "Teroris AOI", mereka beristirahat di Salak.
Saat itulah, K.H Khudlori dengan perlahan menjauh dari rombongan serdadu, lalu menenggelamkan diri dalam air banjir, dan masuk ke sungai. Selamatlah K.H Khudlori. Namun malang bagi 3 anggota lainnya, yakni Busro dan dua putra dari K.H Mad Satari, mnereka di bawa ke Desa Kritig. Ketiga anggota AOI ini beserta banyak anggota AOI dari desa lainnya di pancung. Dua putra K.H Mad Satari tewas, sedangkan Busro sekalipun ditebas batang lehernya dua kali, masih bisa selamat, dan pura-pura mati hingga para serdadu ANJING NEKAT itu meninggalkan mayat-mayat pejuang AOI yang berserakan. dengan merangkak, BUsro pergi menuju perkampungan Kritig dan ditolong oleh seorang Kyai di desa itu. setelah mendapat perawatan seperlunya, Busro di bawa ke Rumah sakit untuk diobati.
adapun para mayat-mayat Pahlawan yang tewas itu akhirnya dikuburkan di desa Bonsari. Hari-hari itu adalah hari-hari yang menegangkan. tak ada yang berani keluar. hanya tersiar oleh kabar penduduk Desa Arjowinangun, bahwa semua yang dibawa oleh Nica, mati ditebas pedang dan bayonet!
Malam hari keluarga yang ditinggal membuat acara selamatan 1 hari hingga 3 hari. Saat itu Busro yang sebetulnya belum meninggal, juga dilakukan upacara selamatan yang sama di rumah keluarga orang tua Busro. Selama masa tiga hari itu, Busro merasakan ada semacam gemuruh dalam rongga dadanya. "Ada apa ini. jangan-jangan mereka menggelar upacara selamatan karena di kira aku mati" gumam Busro di Rumah Sakit. demikianlah akhirnya Busro mengirim surat ke keluarganya di Desa Artjowinangun, bahwa dirinya selamat dan saat ini berada di RSU Kebumen.
Demikialan singkat cerita Peristiwa Ahad Wage yang menerpa Desa Arjowinangun.
^^^^^^
SEKILAS SILSILAH BUPATI KEBUMEN, K.H NASIRUDDIN AL-MANSYUR
Kakek K.H Sururuddin adalah Abdulhamid. Salah satu putra K.H Abdulhamid adalah K.H Abdullah Muchsin. Abdullah Muchsin boyongan ke Desa Purwosari setelah menikah gadis dari desa itu yang bernama Tijah (terkenal dengan sebutan Nini Tijah). Di Desa inilah, K.H Abdullah Muchsin (terkenal dengan sebutan Dullah Musin) melahirkan putra-putranya: termasuk diantaranya adalah K.H Sururuddin (Ayahanda K.H Nasiruddin), Busro, K.H Slamet Hasyim (Ayahanda Lurah Udin, Desa Purwosari) dan K.H Mahfudz (terkenal dengan nama Mapul, meinggal tahun 2009 pemilik sebuah Pondok Pesantren di Purwosari).
K.H Sururuddin belajar Agama Islam di Magelang, Watu Congol. Dari Desa Purwosari hingga Magelang, beliau hanya jalan Kaki. Bukan main cepatnnya jalan kaki beliau. Beliau sempat berperang di Magelang melawan Belanda atau NICA. Sepulang dari Magelang, beliau bergabung dengan K.H Soumalangu (Romo Pusat, pendiri AOI), bahkan pernah menjadi salah satu panglima perang AOI sektor Selatan: Bocor (Bulus Pesantren), Klirong, Petanahan, Puring. Beliau juga pernah menikah dengan salah seorang Putri K.H Soumalangu, namun karena pada masa peperangan, dari hasil perkawinan ini tidak menghasilkan anak.
Singkat cerita setelah K.H Soumalangu tertembak oleh Pasukan Singo Wereng (TNI yang mengandung unsur-unsur Komunis), Pasukan pimpinan Sururuddin akhirnya terdesak dan digiring oleh Pasukan Kuda Putih (TNI yang terdiri dari orang-orang Islam) untuk menyerah dengan damai dan baik-baik. Akhirnya, Sururuddin terpaksa menandatangi perjanjian damai dengan simbol Sururuddin bersedia dikawinkan dengan putri penghulu Landrad kauman Kebumen. Dari hasil pernikahan ini, K.H Sururuddin diperoleh 3 putra. Selanjutnya K.H Sururuddin menikahi gadis dari Gombong dan memberikan keturunan yang lumayan banyak, termasuk salah satu diantaranya adalah K.H Nasiruddin Al-Mansyur (Bupati Kebumen)
^^^
Beberapa keturunan Gombong memang pernah menghasilkan orang-orang ternama: mereka ini antara lain: Jenderal Prabowo (kakeknya berasal dari Gombong), Amien Rais (Kakeknya juga dari Gombong)
^^^
(bersambung ...insya Allah ta'ala: JUDULNYA: Tokoh-tokoh yang melanggar baiat, sumpah K.H Soumalangu mereka mati dalam keadaan Nestapa. MEREKA telah BERSUMPAH: Tidak akan menerima apapun dari PEMERINTAH : Uang, Jabatan, Tanah dll)

2 komentar:

  1. Bener-bener perlu untuk dipelajari kembali. Aku baru tau, semenjak aku sekolah tidak pernah tau akan sejarah AOI di Kebumen. Apa karena pemerintah benar-benar kejam ama AOI yah...??? Sehingga sejarah tersebut dihilangkan dari keadaan yang sebenarnya...???
    Wallohu'alam bishowab....

    BalasHapus
  2. pelajaran sejarah yang terlupakan, waktu aku kecil pernah mendengar cerita tentang angkatan umat islam tapi hanya sepenggal, semoga sejarah ini bisa diluruskan semoga tidak menjadi fitnah anak cucu kita

    BalasHapus